Sabtu, 31 Desember 2011

Contoh Pembuatan Proposal Kegiatan

>Contoh Proposal lengkap, gratis, dan terbaru 2012. Ok buat sobat semua yang lagi membutuhkan contoh proposal skripsi, contoh kegiatan, contoh proposal penawaran, contoh proposal penelitian, maka kali ini wisatabelajar berbagi sedikit informasi buat sobat yang membutuhkan. Bagi sebagian orang membuat proposal adalah hal mudah namun tidak demikian bagi yang lainya. Bukan berarti yang lain itu tidak bisa melainkan kurang memahami format atau isi dari proposal itu sendiri. Dengan adanya contoh sebuah proposal maka proses pembuatan proposal akan lebih mudah, karena kita sudah memiliki gambaran umumnya.
Bagi yang belum mengerti konsep dasar proposal, saya akan menjelaskan sedikit sebelum menggunakan contoh proposal. Ok Proposal merupakan suatu bentuk rancangan kegiatan yang dibuat dalam bentuk formal dan standar berupa tulisan. Agar pemahaman sobat lebih mudah mencernanya, kita dapat membandingkannya dengan istilah “Proposal Penelitian” dalam dunia ilmiah (pendidikan) yang disusun oleh seorang peneliti atau pelajar yang akan membuat penelitian (skripsi, tesis, disertasi). Dalam dunia ilmiah, proposal adalah suatu rancangan desain penelitian (usulan penelitian) yang akan dilakukan oleh seorang peneliti tentang suatu bahan penelitian. Bentuk “Proposal Penelitian” ini, biasanya memiliki suatu bentuk, dengan berbagai standar tertentu seperti penggunaan bahasa, tanda baca, kutipan dll.
Secara mendasar harus digaris bawahi bahwa penulisan proposal hanya salah satu dari sekian banyak tahap perencanaan, seperti yang telah diuraikan sebelumnya dalam buku ini. Penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang telah dibuat dalam tahap-tahap sebelumnya. Ini berarti, tanpa terlebih dahulu melakukan langkah-langkah sebagaimana yang diuraikan dalam buku ini, maka kemungkinan besar penulisan proposal akan menemui kesulitan.
Berikut ini sistematika Penulisan Proposal sesuai contoh proposal.

1. Pendahuluan
2. Dasar Pemikiran
3. Tujuan Kegiatan
4. Tema Kegiatan
5. Jenis Kegiatan
6. Target Kegiatan
7. Sasaran / Peserta Kegiatan
8. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
9. Anggaran Dana
10. Susunan Panitia
11. Jadwal Kegiatan
12. Penutup
 Contoh Proposal Kegiatan [ Download ]
Contoh Proposal Penelitian [ Download ]
Contoh Proposal Penawaran [ Download ]
Contoh Proposal Usaha [ Download ]
Contoh Proposal Skripsi [ Download ]

Jumat, 30 Desember 2011

Meneladani Perilaku Bisnis Nabi Muhammad saw.

Sebagai Nabi terakhir yang diutus untuk menyempurnakan ajaran-ajaran Allah, Rasulullah Muhammad adalah suri teladan yang baik, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi kamu, (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari kiamat dan ia banyak menyebut nama Allah” (Q.S. al-Ahzab [33]: 21). Akan tetapi, harus diingat, Nabi Muhammad saw. juga seorang manusia biasa, yang membutuhkan makan, minum, berkeluarga, bertetangga, berpolitik, dan berbisnis, serta berkepentingan untuk memimpin umatnya.

Sisi kemanusiaan Rasulullah Muhammad ini perlu dilihat sebagai motivasi kita untuk merasa memiliki kesempatan yang sama dalam bekerja untuk beribadah. Kota Dagang tempat kelahirannya, Mekkah, telah menempanya untuk menjadi pedagang yang lihai dalam bertransaksi bisnis. Pamannya yang bernama Abi Tholib telah mengajarkan tehnik berdagang yang super canggih, bahkan harus dengan menempuh perjalanan ke Syiria dan Yastrib (Madinah). Dalam menjalankan transaksi bisnisnya, Rasulullah Muhammad melakukannya dengan kejujuran, adil, dan selalu membuat pelanggannya merasa puas, tanpa mengeluh dan kecewa. Beliau selalu menepati janji dan menjual barang dagangannya sesuai standar kualitas permintaan pelanggannya. Reputasinya sebagai pedagang yang jujur dan adil telah tertanam dengan baik sejak muda, hingga pada akhirnya mendapat julukan Al-amin (yang dapat dipercaya).
Keyakinan Rasulullah Muhammad akan kebenaran ajaran Allah untuk selalu berbuat jujur dan adil dalam bekerja tak hanya terpatri dalam hati dan terurai di lisan, tapi terimplemantasi dalam perbuatan kesehariannya. Ini adalah prinsip dasar yang selalu menjadi landasan untuk bersikap professional dalam berdagang. Beliau tak hanya sekali atau dua kali dalam menekankan ajaran tersebut.
“Tidak ada satu pun makanan yang lebih baik daripada yang dimakan dari hasil keringat sendiri.” (H.R. Al-Bukhari)
“Berusaha untuk mendapatkan penghasilan halal merupakan sebuah kewajiban, di samping tugas-tugas lain yang diwajibkan.” (H.R. Al-Baihaqi).
“Segala sesuatu yang halal dan haram sudah jelas, tetapi di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa berhato-hati terhadap barang yang meragukan, berarti telah menjaga agama dan kehormatan dirinya. Tetapi, barang siapa yang mengikuti hal-hal yang meragukan berarti telah terjerumus pada yang haram, seperti seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di sebuah ladang yang terlarang dan membiarkan ternaknya memakan rumput itu. Setiap penguasa mempunyai peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar, dan Allah melarang segala sesuatu yang dinyatakan haram.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Memahami Paradigma Definisi Sosial dalam Sosiologi

Paradigma definisi sosial dalam sosiologi yang telah dipelopori oleh Max Weber merupakan suatu pendekatan terhadap individu. Tanpa melepaskan dari pencarian untuk penjelasan kausal Max Weber (1864-1920) menempatkan konsep tindakan individu yang bermakna pada pusat teorinya tentang masyarakat.
 
Bagi Weber ciri yang mencolok dari hubungan-hubungan sosial adalah kenyataan bahwa hubungan-hubungan tersebut bermakna bagi mereka yang mengambil bagian didalamnya. Melalui analisis kenyataan tindakan manusialah kita memperoleh pengetahuan mengenai ciri dan keanekaragaman masyarakat manusia. Perfektif kontruktifisme beranggapan bahwa perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam. Manusia selalu bertindak sebagai agen dengan bertindak mengkonstruksi realitas sosial.
Sosiologi bagi Weber adalah ilmu tentang perilaku sosial, perilaku sosial terjadi dikarenakan pergeseran kearah kenyakinan, motivasi dan tujuan dari anggota masyarakat, yang semuanya memberi isi dan bentuk kepada kelakuannya. Pada halaman pertama bukunya Wirtschaft und Gesellschaft (Economy and society), ia menuliskan bahwa sosiologi; “eine wissenchaft, welche soziales handeln deutend versthen und dadurch in seinen wirkungen ursachlich arklaren will”. Artinya  ilmu yang bertujuan untuk memahami perilaku sosial melalui penafsirannya, dan dengan itu menerangkan jalan perkembangannya dan akibat-akibatnya menurut sebab-sebabnya. Sedangkan tujuan interpretatif dari tindakan sosial adalah untuk sampai pada penjelasan kausal mengenai berbagai peristiwa beserta akibatnya.
Menurut Weber bahwa tindakan sosial serta antar hubungan sosial merupakan yang dikaji oleh sosiologi. Bahwa yang dimaksudkan tindakan sosial menurut Weber tindakan individu yang sepanjang tindakannya itu memiliki makna atau arti subjektif bagi diri dan diarahkan bagi orang lain. Sebaliknya jika tindakan tersebut diarahkan dengan objeknya benda mati, tanpa dihubungkannya dengan tindakan orang lain maka, bukan termasuk tindakan sosial.
Pola perilaku khusus yang sama mungkin bisa sesuai dengan kategori-kategori tindakan sosial yang berbeda dalam situasi yang berbeda, tergantung pada orientasi subjektif dari individu yang terlibat. Jabatan tangan mungkin suatu ungkapan persahabatan yang spontan, mungkin mencerminkan kebiasaan, atau menunjukan persetujuan usaha dagang antara orang yang tidak memiliki hubungan sosial yang lain. Tindakan sosial hanya dapat dimengerti menurut arti subjek dan pola-pola motivasional yang berkaitan dengan itu.
Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (interpretave understhanding) atau dengan terminologi vestehen dan harus memahami motif tindakan aktor. Tekanan vestehen untuk memperoleh data yang valid tentang arti-arti subjektif tindakan sosial. Bagi Weber, istilah ini, tidak sekedar introspeksi.
Introspeksi memberikan pemahaman atau motif sendiri atau arti subjektif, tidak cukup memahami arti-arti subjek tindakan orang lain. Sebaliknya apa yang diminta adalah empati kemampuan untuk menempatkan kerangka diri untuk berfikir kerangka orang lain yang perilakunya mau dijelaskan dan situasi-situasi dan tujuannya mau dilihat dalam perfektif itu. Sosiologi sebagai cara pandang dengan metode vestehen menjadikan sosiologi menjadi cara pandang yang melakukan pembongkaran terhadap yang terkandung dari tindakan.

Welcome

S E L A M A T  D A T A N G 
DI MEDIA PEMBELAJARAN
MEDIA BAHAN PEMIKIRAN KE ARAH PENCIPTAAN
SITUASI DAN KONDISI BELAJAR YANG MENGUNTUNGKAN,
BAIK BAGI PARA SISWA MAUPUN KITA SEMUA